elwafaa

Blog EntryLenteraAug 30, '06 12:42 AM
for everyone

 

                                               Bahagia dan Duka

Bahagia dan duka ibarat sepasang merpati yang tak bisa dipisahkan. Keduanya selalu berjalan mengiringi kehidupan manusia. Jadi, dimanapun manusia ada pasti akan ditemani oleh keduanya. Itulah perlunya sikap yang bijaksana dalam menghadapi duka dan suka, karena musibah bukan masalah tapi yang terpenting bagaiman kita menyikapinya.

Suatu hati Rabiah Adawiyyah, salah satu tokoh sufi pada zaman Abasyiyyah, bertanya pada murid-muridnya:”Siapakah orang Mukmin itu? Masing-masing menjawab: Orang yang mendirikan salah tepat waktu, orang yang mencintai Allah dan jawaban lainnya, kemudian rabiah mengatakan, sesungguhnya oang mukmin adalah orang yang merasakan lezatnya musibah dan melupakan  kebaikannya pada orang lain” sungguh luar biasa, jika setiap mukmin merasa senang, bahkan ketika mendapat cobaan, maka tidak akan kita temukan seorang pun dari umat Islam yang bersedih.

Abdurrahman bin auf adalah saudagar kaya, suatu hari dia merasa bersedih karena rezeki yang diberikan padanya begitu luas, kemudian Rasulullah bertanya padanya,:”Kenapa engkau bersedih”, dia menjawab: “Wahai Rasulullah saya takut setiap kebaikan yang kulakukan telah Allah berikan pahalanya padaku di dunia, sehingga aku tidak mendapat pahala sedikitpn di akherat”.

Pada umumnya manusia di setiap zaman beranggapan bahwa sumber kebahagiaan berupa kekayaan, uang, kesuksesan, ilmu, iman dan takwa.

Sebenarnya kebahagiaan bersifat relatif; tergantung pada tujuan manusia di dalam hidupnya. Jika tujuan hidupnya mengumpulkan kekayaan, atau hiasan dunia, maka kesuksesannya dalam meraih tujuan dari dunianya menjadi sumber kebahagiaan dirinya. Tapi, jika tujuan hidupnya berpegang teguh pada iman, takwa dan amal saleh untuk mendapatkan kebahagiaan akhirat, maka hal tersebut merupakan sumber ketenangan dan kebahagiaan hatinya.

Al-Qur’an telah menyebutkan dua macam dari kebahagiaan,
وفرحوا بالحياة الدنيا ومالحياة الدنيا فى الاخرة الا متاع…       
“ …Mereka bergembira dengan kehidupan di dunia, padahal kehidupan dunia itu ( dibanding dengan) kehidupan akhirat, hanyalah kesenangan ( yang sedikit)” (al-Ra’du: 26)

Al-Qur’an juga telah menyebutkan tentang kebahagiaan orang-orang mukmin ketika turun kepada mereka ayat-ayat al-Qur’an; pemberi mereka petunjuk kepada yang haq, dia adlah al-Syifâ, rahmat dan hidayah. Seperti firman-Nya dalam surat Yunus ayat 57& 58
يا أيها الناس قد جاءتكم موعظة من ربكم وشفاء لما فى الصدور وهدى ورحمة للمؤمنين. قل بفضل الله وبرحمته فبذلك فاليفرحوا هو خيرا مما يجمعون
“ Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit ( yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman. Katakanlah :” dengan karunia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan “

Maka, barangsiapa yang sumber kebahagiaannya adalah  dunia, pada hakikatnya ia tidak mendapatkan kebahagiaan yang menenangkan hati. Hal tersebut jika dunianya itu telah menyibukkan diri dan hatinya dari mengingat Allah Swt. Sehingga ketika  ia ditimpa musibah atau kehilangan sesuatu dari apa yang ia inginkan,  ia akan berputus asa.
“ Dan jika kami rasakan kepada manusia suatu rahmat ( nikmat ) dari Kami, kemudian rahmat itu kami cabut dari padanya, pastilah dia menjadi putus asa lagi tidak berterimakasih. Dan jika kami rasakan kepadanya kebahagiaan sesudah bencana yang menimpanya, niscaya dia berkata: “ Telah hilang bencana-bencana itu daripadaku”; sesungguhnya dia sangat gembira lagi bangga. Kecuali orang-orang yang sabar ( terhadap bencana) dan mengerjakan amal-amal saleh; mereka beroleh ampunan dan pahala yang besar”( Qs:.Huud:9-10 )

 Sedangkan barang siapa yang sumber kebahagiaannya  berpegang teguh pada iman, takwa dan amal saleh serta mengikuti manhaj yang telah ditetapkan Allah Swt. maka hal tersebut itulah yang merupakan kebahagiaan  hakiki.
“ Apa yang di sisimu akan lenyap, dan apa yang ada di sisi Allah adalah kekal. Dan sesungguhnya Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang sabar dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan. Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan” ( Qs.An-Nahl 96-97 )

Seperti halnya bahagia, manusia pun akan merasakan sedih.Perasaan ini terjadi ketika manusia kehilangan sesuatu yang mulia atau sesuatu yang mempunyai nilai dalam hidupnya, atau jika ia gagal dalam  mendapatkan sesuatu yang menjadi harapannya.
Perasaan sedih ini telah digambarkan Allah Swt. dalam al-Qur’an surat at-Taubah ayat 92 ketika orang-orang mukmin yang fakir meminta izin kepada Rasulullah Saw. untuk pergi berjihad. Akan tetapi Rasulullah berkata kepada mereka bahwa mereka tidak bisa pergi berjihad karena tidak ada kendaraan yang akan membawa mereka pergi berperang, maka mereka pun mencucurkan air mata karena sedih.

“ Dan tiada (dosa pula) atas orang-orang yang apabila mereka datang kepadamu, supaya kamu memberi mereka kendaraan, lalu kamu berkata:” Aku tidak memperoleh kendaraan untuk membawamu “ lalu mereka kembali, sedang mata mereka bercucuran airmata karena kesedihan, lantaran mereka tidak memperoleh apa yang akan mereka nafkahkan.”( Qs. at-Taubah:92 ).

Perasaan bahagia dan duka adalah perasaan manusiawi. Bahagia ketika mendapatkan sebuah nikmat  jangan sampai menyibukkan hati dariNya. Jangan sampai ia mengira bahwa kesuksesan yang diperolehnya adalah hasil kerja kerasnya, sehingga menimbulkan perasaan sombong. Akan tetapi keberhasilan yang diperoleh seorang hamba semata karuniaNya sekaligus sebagai ujian; apakah ia bersyukur atau malah kufur?
Begitu pula dengan duka; jangan sampai sebuah jiwa tenggelam dalam duka dan kesedihan terlalu lama. Bersabar adalah tindakan  mulia bagi seorang hamba yang rida terhadap ketentuan Rabbnya.
Semoga kita menjadi hambaNya yang bersyukur ketika memeperoleh nikmat dan menjadi hambaNya yang bersabar ketika menghadapi musibah,Amiin. WalLâhu a’lam bi al-Shawâb

.


Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help
Template design Copyright © 2005 Jeff Miller